Pernahkah kamu membuka media sosial hanya untuk melihat-lihat, tetapi menutupnya dengan perasaan yang berbeda?
Awalnya biasa saja. Kamu melihat unggahan teman, membaca kabar seseorang yang baru saja meraih prestasi, lalu menemukan orang lain yang tampaknya sudah selangkah lebih dekat dengan impiannya.
Ada yang memenangkan perlombaan. Ada yang mendapatkan beasiswa. Ada yang terlihat begitu percaya diri dengan masa depannya.
Kamu ikut senang melihat mereka berhasil.
Setidaknya, itulah yang kamu rasakan pada awalnya.
Namun, beberapa saat kemudian, muncul sebuah pikiran yang sulit dijelaskan.
“Kok mereka sudah sejauh itu, ya?”
Kamu mulai mengingat pencapaianmu sendiri. Hal-hal yang belum berhasil kamu lakukan. Target yang masih jauh. Bahkan, keputusan-keputusan yang sampai sekarang belum berani kamu ambil.
Lalu, tanpa sadar, kamu mulai mempertanyakan dirimu sendiri.
“Sebenarnya, aku sudah melakukan apa saja selama ini?”
Aneh, bukan?
Kamu hanya melihat kehidupan orang lain melalui layar, tetapi entah bagaimana, kamu justru merasa sedang kalah dalam kehidupanmu sendiri.
Dan mungkin, yang paling melelahkan bukanlah melihat orang lain berhasil.
Melainkan perasaan bahwa kamu seharusnya sudah berada di tempat yang sama.
1. Kita Sibuk Mengejar, tetapi Tidak Selalu Tahu Sedang Menuju ke Mana
Sejak kecil, kita terbiasa mendengar bahwa kita harus menjadi lebih baik.
Belajarlah lebih giat. Dapatkan nilai yang bagus. Masuk ke sekolah yang bagus. Raih pekerjaan yang bagus. Bangun masa depan yang bagus.
Tidak ada yang salah dengan nasihat tersebut. Memiliki tujuan dan berusaha meraih masa depan yang baik adalah hal yang penting.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya, siapa yang menentukan seberapa cepat kita harus berhasil?
Mengapa kita merasa harus sudah mengetahui cita-cita ketika masih remaja? Mengapa kita merasa gagal ketika teman sebaya mendapatkan pencapaian yang belum kita miliki? Mengapa kehidupan terkadang terasa seperti perlombaan, padahal tidak semua orang sedang menuju tujuan yang sama?
Kita sering kali begitu sibuk mengejar ketertinggalan sampai lupa memastikan apakah tujuan yang kita kejar memang sesuai dengan kehidupan yang ingin kita bangun.
Kita ingin mendapatkan nilai tinggi karena takut kalah dari teman. Kita ingin terlihat sukses karena khawatir dianggap tidak memiliki masa depan. Kita ingin segera mencapai sesuatu karena merasa waktu terus berjalan, sementara orang lain tidak berhenti bergerak.
Akhirnya, kita bukan hanya mengejar impian.
Kita juga berusaha melarikan diri dari perasaan bahwa diri kita belum cukup baik.
Dan kedua hal itu ternyata sangat berbeda.
Mengejar impian bisa membuat kita bersemangat. Namun, terus-menerus berusaha membuktikan bahwa diri kita tidak kalah dari orang lain bisa membuat perjalanan yang seharusnya bermakna terasa melelahkan.
2. Kita Melihat Pencapaian Mereka, tetapi Menjalani Seluruh Proses Kita Sendiri
Bayangkan kamu sedang membaca sebuah buku.
Kamu baru sampai di halaman dua puluh, sementara seseorang memperlihatkan halaman terakhir bukunya yang penuh dengan keberhasilan.
Apakah masuk akal jika kamu langsung menyimpulkan bahwa bukumu tidak akan memiliki akhir yang baik?
Tentu tidak.
Namun, itulah yang sering kita lakukan ketika membandingkan kehidupan.
Kita melihat seseorang mendapatkan beasiswa, tetapi tidak mengetahui seluruh proses yang dilaluinya. Kita melihat orang lain meraih kesuksesan, tetapi tidak memahami semua keadaan yang membentuk perjalanannya.
Bahkan ketika kita mengetahui bahwa mereka pernah mengalami kegagalan, kita tetap bisa merasa bahwa perjalanan kita sendiri jauh lebih lambat.
Media sosial membuat hal ini semakin mudah terjadi. Dalam beberapa menit, kita dapat menyaksikan puluhan pencapaian dari orang-orang yang berbeda.
Sementara itu, kehidupan kita sendiri tetap berjalan dengan segala rutinitasnya: belajar, mengerjakan tugas, membantu keluarga, mencoba memahami sesuatu, mengalami kegagalan, kemudian mencoba lagi.
Tidak setiap hari membawa kabar besar. Tidak setiap usaha langsung menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan.
Namun, bukan berarti tidak ada yang sedang berkembang.
Kita hanya perlu mengingat bahwa apa yang terlihat di layar bukanlah keseluruhan kehidupan seseorang.
Jangan menilai seluruh perjalananmu hanya karena kamu sedang melihat potongan terbaik dari perjalanan orang lain.
3. Mengapa Kita Begitu Takut Tertinggal?
Ada sesuatu yang menarik tentang manusia: kita tidak hanya ingin berkembang, tetapi juga sering ingin mengetahui bagaimana posisi kita dibandingkan dengan orang lain.
Ketika masih sekolah, kita mengenal peringkat. Ketika memasuki dunia kerja, kita mulai memperhatikan jabatan dan penghasilan. Di lingkungan sosial, kita mungkin membandingkan jumlah teman, pengalaman, atau pencapaian.
Perbandingan sosial sebenarnya tidak selalu buruk. Kita bisa belajar dari orang lain, mengenali kemampuan yang ingin dikembangkan, dan menemukan inspirasi untuk mencapai tujuan.
Masalahnya muncul ketika perbandingan berubah menjadi ukuran harga diri.
Kita mulai berpikir bahwa jika seseorang lebih pintar, berarti kita bodoh. Jika seseorang lebih sukses, berarti kita gagal. Jika seseorang sudah menemukan jalannya, berarti kita yang masih mencari arah telah melakukan sesuatu yang salah.
Padahal, kesimpulan tersebut tidak selalu benar.
Seseorang dapat memiliki kemampuan yang lebih unggul dalam satu bidang tanpa membuat kemampuanmu kehilangan nilai. Orang lain bisa mencapai tujuan lebih dahulu tanpa membuat tujuanmu menjadi mustahil.
Namun, pikiran kita terkadang tidak sesederhana itu.
Kita mengetahui bahwa setiap orang memiliki perjalanan berbeda, tetapi tetap merasa cemas ketika melihat orang lain melangkah lebih cepat.
Mungkin karena di balik rasa takut tertinggal, terdapat pertanyaan yang lebih dalam:
“Bagaimana kalau aku tidak pernah menjadi seseorang yang berarti?”
Jika kamu pernah memikirkan hal seperti itu, cobalah berhenti sejenak.
Nilai dirimu tidak harus ditentukan oleh seberapa jauh kamu berada di depan orang lain. Kamu tetap memiliki kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan memberikan manfaat, bahkan ketika perjalananmu belum terlihat mengesankan.
Kamu tidak harus menjadi yang terbaik dalam segala hal untuk memiliki kehidupan yang bernilai.
4. Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan Ketika Merasa Tertinggal?
Kita tidak bisa selalu mengendalikan apa yang muncul di media sosial, pencapaian orang lain, atau kecepatan waktu berjalan.
Namun, kita dapat belajar mengubah cara memandang semua itu.
Pertama, berhentilah menjadikan kehidupan orang lain sebagai tenggat waktu bagi dirimu sendiri.
Melihat teman berhasil masuk universitas impian bukan berarti kamu harus sudah memiliki seluruh rencana masa depan hari ini. Melihat seseorang meraih prestasi bukan berarti kamu harus menghasilkan pencapaian serupa minggu depan.
Ambil inspirasi dari mereka, tetapi berikan dirimu ruang untuk berkembang sesuai dengan keadaanmu.
Kedua, belajarlah membedakan antara belum berhasil dan tidak akan pernah berhasil.
Keduanya bukan hal yang sama.
Belum memahami suatu pelajaran bukan berarti kamu tidak mampu memahaminya. Belum menemukan minat bukan berarti kamu tidak memiliki potensi. Belum mencapai target bukan berarti semua usahamu sia-sia.
Kita sering membuat kesimpulan tentang masa depan berdasarkan keadaan yang hanya menggambarkan masa kini.
Padahal, kemampuan dapat berkembang, pengetahuan dapat bertambah, dan kesempatan dapat berubah.
Ketiga, perhatikan kemajuan yang selama ini terlalu kecil untuk kamu rayakan.
Mungkin kamu sekarang lebih berani bertanya daripada sebelumnya. Mungkin kamu mulai memahami pelajaran yang dahulu terasa sulit. Mungkin kamu belajar mengendalikan emosi, mengatur waktu, atau bertanggung jawab atas kesalahan sendiri.
Hal-hal seperti ini mungkin tidak mendapatkan tepuk tangan.
Tidak ada unggahan khusus yang mengumumkannya. Tidak ada piala yang diberikan. Bahkan, orang lain mungkin tidak menyadarinya.
Namun, perkembangan tetaplah perkembangan, meskipun tidak selalu terlihat oleh dunia.
Keempat, jangan hanya bertanya seberapa cepat kamu berkembang. Tanyakan juga menjadi orang seperti apa kamu selama proses itu.
Apa gunanya pencapaian yang besar jika kita kehilangan kejujuran untuk meraihnya? Apa gunanya menjadi lebih unggul jika kita mulai merendahkan orang lain? Apa artinya memperoleh banyak hal jika kita tidak lagi memiliki waktu untuk menjaga kesehatan, keluarga, atau hal-hal yang kita yakini penting?
Keberhasilan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan untuk mencapainya.
Kita boleh memiliki ambisi besar tanpa harus mengorbankan seluruh nilai yang kita pegang.
5. Kamu Tidak Harus Berhenti Bermimpi untuk Belajar Menghargai Dirimu
Ada satu kesalahpahaman yang perlu kita luruskan.
Menerima diri sendiri bukan berarti menyerah pada keadaan.
Berhenti membandingkan diri secara berlebihan bukan berarti berhenti berusaha. Menikmati proses bukan berarti tidak memiliki target. Bersyukur atas apa yang dimiliki bukan berarti tidak boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik.
Kamu tetap boleh bermimpi masuk universitas impian, menjadi dokter, membangun bisnis, menciptakan sesuatu yang bermanfaat, atau mencapai keberhasilan yang dahulu hanya berani kamu bayangkan.
Kamu boleh bekerja keras untuk masa depan.
Namun, kamu tidak harus membenci dirimu yang sekarang hanya karena belum menjadi dirimu yang kamu impikan.
Kamu bisa mengakui bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki tanpa menganggap seluruh dirimu sebagai kegagalan.
Kamu bisa belajar dari seseorang yang lebih berpengalaman tanpa merasa lebih rendah sebagai manusia.
Kamu bahkan bisa merasa kecewa terhadap suatu hasil sambil tetap menghargai keberanianmu untuk mencoba.
Sebab, kamu adalah manusia yang sedang berkembang, bukan proyek yang harus selesai secepat mungkin.
Dan selama kamu masih memiliki kesempatan untuk belajar dan mengambil langkah berikutnya, masih ada ruang untuk perubahan.
Bagaimana Jika Kita Tidak Benar-Benar Tertinggal?
Mungkin selama ini kita terlalu sering melihat kehidupan sebagai perlombaan.
Kita memperhatikan siapa yang lebih dahulu berhasil, siapa yang memperoleh lebih banyak, dan siapa yang tampaknya sudah mencapai tujuan.
Kemudian, kita menggunakan semua itu untuk menentukan apakah kehidupan kita berjalan dengan baik atau tidak.
Padahal, tidak semua hal berharga dapat diukur dengan perbandingan.
Menjadi lebih sabar mungkin tidak membuatmu mendapatkan penghargaan. Memperbaiki hubungan dengan keluarga mungkin tidak meningkatkan jumlah pengikutmu. Belajar memahami diri sendiri mungkin tidak menghasilkan pencapaian yang dapat diumumkan kepada banyak orang.
Namun, semua itu tetap dapat menjadi bagian penting dari kehidupan yang baik.
Jadi, jika hari ini kamu merasa semua orang sedang bergerak maju sementara kamu masih berada di tempat yang sama, cobalah bertanya kepada dirimu sendiri:
Apakah aku benar-benar tidak berkembang, atau aku hanya terlalu sibuk melihat perkembangan orang lain?
Kamu tidak perlu memiliki semua jawaban hari ini. Kamu juga tidak harus membuktikan sesuatu kepada setiap orang yang kamu temui.
Teruslah belajar. Perbaiki apa yang bisa diperbaiki. Kejarlah tujuan yang benar-benar berarti bagimu. Dan ketika orang lain berhasil, belajarlah untuk ikut bahagia tanpa mengubah keberhasilan mereka menjadi hukuman bagi dirimu sendiri.
Kamu tidak harus mengalahkan semua orang untuk membuktikan bahwa hidupmu berarti.
Terkadang, kemajuan terbesar bukanlah ketika kita berhasil melampaui orang lain, melainkan ketika kita akhirnya berhenti mengukur seluruh kehidupan kita dengan perjalanan mereka.
Barangkali, kita tidak sedang tertinggal.
Barangkali, kita hanya sedang belajar berjalan dengan arah dan kecepatan kita sendiri.
Dan itu bukan sesuatu yang perlu kita malu untuk akui.
Leave a Reply